Iklan - Geser untuk melanjutkan
<
EkonomiNasional

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Meningkat 5 Persen, Ini Indikator Pendukungnya

Global Sulteng
×

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Meningkat 5 Persen, Ini Indikator Pendukungnya

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

GLOBALSULTENG.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 meningkat 5,05 persen didukung realisasi berbagai indikator yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 itu juga sejalan dengan prediksi IMF, Bank Dunia, dan Konsensus Bloomberg.

Iklan - Geser untuk melanjutkan
Iklan - Geser untuk melanjutkan

“artinya APBN mampu bertahan dengan tekanan dan mampu membantu ekonomi untuk menjadi lebih baik, itu kondisi lingkungan ekonomi yang kita lihat, kita hadapi, dan sekaligus kita kelola dan hasilnya relatif jauh lebih baik dari yang kita perkirakan,” kata Sri Mulyani seperti dikutip dari halaman Kemenkeu, Rabu (10/1/2024).

Menurutnya, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 mampu tumbuh 5,05 persen hingga triwulan ketiga tahun 2023.

Kemudian, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,9 persen dan investasi 4,2 persen. Sementara, ekspor tumbuh tipis 1,1 persen, impor melemah -2,0 persen imbas pelemahan ekonomi global.

Katanya, inflasi Indonesia juga terkendali di level 2,61 persen per Desember 2023 ini jauh lebih rendah dibanding proyeksi 2023 sebesar 3,6 persen. Inflasi makanan mudah menguap yang menjadi kontributor utama seperti beras, cabai dan bawang putih juga mulai menunjukkan tren menurun di Desember 2023.

Baca juga: Pencuri Hewan Ternak di Marawola Sigi Ditangkap Polisi

“Semoga stabilitas harga tidak mengalami disrupsi lagi karena faktor geopolitik maupun bencana alam atau faktor lainnya,” ujarnya.

Selain itu, dari segi produksi juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik.

Lebih lanjut, sektor transportasi, akomodasi makan minum dan infokom menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Bahkan, sektor pertambangan juga mampu tumbuh 5,7 persen di tengah moderasi harga komoditas global.

Sri Mulyani menyampaikan, melemahnya perekonomian global khususnya negara-negara mitra dagang utama Indonesia, membuat ekspor dan impor Indonesia berada di zona negatif sejak awal tahun 2023.

Tetapi, neraca perdagangan Indonesia masih menunjukkan kinerja positif dan mencatatkan surplus 43 bulan berturut-turut.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari hingga November 2023 mencapai 33,63 miliar dolar Amerika Serikat.

Laju ekonomi domestik masih sangat resilien yang ditunjukkan dengan berbagai indikator. Aktivitas produksi masih cukup kuat tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang terus ekspansif mencapai 52,2.

Baca juga: Piala Soeratin 2024 Siap Bergulir, Sulteng Masuk di Grup Ini

Konsumsi listrik tumbuh tinggi 14 persen untuk bisnis dan 6,7 persen untuk industri dan dari sisi konsumsi, Indeks Keyakinan Konsumen masih cukup tinggi mencapai 123,6. Untuk, Indeks Penjualan Riil tumbuh positif mencapai 2,9 persen.

Dia menambahkan, laju pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tercatat, tingkat pengangguran terbuka mampu ditekan ke level 5,32 persen per Agustus 2023 dari periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar 5,86 persen.

Penguatan pemulihan ekonomi serta berbagai program perlinsos juga mampu menurunkan tingkat kemiskinan dari 9,54 persen per Maret 2022 menjadi 9,36 persen di 2023 lebih rendah bahkan dari masa pra covid 2019 yang sebesar 9,41 persen.

“Itu semua karena APBN kita cukup meng-address isu dari masyarakat yang paling rentan ini, jadi semua tren dari sektor kesejahteraan masyarakat terutama kelompok 40 persen paling rentan menunjukkan adanya perbaikan,’ tuturnya.