GLOBALSULTENG.COM, PALU – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tengah (Sulteng) atau Bank Sulteng menargetkan seluruh layanan perbankannya pulih pada pertengahan November 2026.
Saat ini, manajemen masih menyelesaikan asesmen dan penguatan sistem bersama Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama Bank Sulteng, Ramiyatie, mengatakan operasional kantor cabang di Sulawesi Tengah tetap berjalan.
Namun, sejumlah layanan digital dan transaksi tertentu masih membutuhkan penyempurnaan setelah mengalami gangguan beberapa waktu lalu.
“Kami berharap asesmen segera selesai dan semoga November ini sudah pulih secara keseluruhan,” kata dia saat konferensi pers di Gedung Workshop Bank Sulteng, Jumat (6/11/2026).
Ramiyatie menjelaskan, manajemen melakukan pemeriksaan dan pengujian sistem untuk memastikan keamanan transaksi nasabah sebelum layanan digital kembali beroperasi sepenuhnya.
Selama proses itu, nasabah masih dapat mengakses layanan melalui kantor cabang. Sementara itu, layanan ATM Bersama telah memperoleh persetujuan untuk diaktifkan kembali.
Manajemen saat ini menunggu penyelesaian tahapan teknis sebelum layanan tersebut beroperasi.
Ramiyatie mengaku telah mengunjungi sejumlah kantor cabang untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, termasuk di wilayah pedesaan.
“Walaupun belum semuanya pulih, setidaknya ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Bantuan yang diberikan telah membantu mengaktifkan kembali layanan Bank Sulteng,” ujarnya.
Di tengah pemulihan, Bank Sulteng juga menambah sekitar 74 unit ATM. Penambahan itu antara lain untuk mengganti mesin yang sudah lama.
Baca juga: Bank Sulteng Pulihkan Layanan ATM Bersama, Nasabah Bisa Cek Saldo hingga Transfer
Khusus di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Bank Sulteng mengoperasikan 10 ATM dan dua kantor pelayanan. Manajemen menilai fasilitas tersebut masih mencukupi kebutuhan transaksi masyarakat setempat.
Meski begitu, Ramiyatie mengatakan penambahan ATM tetap mempertimbangkan kebutuhan nasabah, biaya operasional, dan manfaat bisnis.
Perkembangan transaksi digital juga menjadi pertimbangan dalam menentukan kebutuhan mesin ATM ke depan.
Menurut dia, transaksi tunai masih cukup banyak digunakan masyarakat di kawasan industri Bahodopi. Sejumlah pekerja bahkan memilih menarik gaji dalam jumlah besar setelah menerima pembayaran.
Bank Sulteng juga membuka peluang pengembangan kantor pelayanan di Bahodopi. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan perhitungan, terutama terkait harga tanah yang relatif tinggi di kawasan itu.
Untuk menangani keluhan nasabah, manajemen mengandalkan sistem pengaduan, standar penyelesaian keluhan, serta layanan call center.
Pengaduan terkait gangguan layanan juga diteruskan kepada unit yang menangani pemulihan.
Ramiyatie memastikan seluruh unit terkait mendapat tugas mempercepat perbaikan sistem tanpa mengabaikan pelayanan kepada nasabah.
“Kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas layanan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepada Bank Sulteng,” jelasnya.












