RIAN AFDHAL HIDAYAT / GLOBAL SULTENG
Sebelum memakai seragam kerja, melangkah menuju Kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Wandi terlebih dahulu duduk di Warung Berkah Lamongan berjarak 70 meter dari tempat tinggalnya.
Dia duduk di meja warung dengan memesan menu andalannya, nasi campur lauk telur, menu yang kerap disantapnya saat di kampung halaman.
Sarapan dengan menu sederhana itu merupakan rutinitas Wandi sebelum ia berangkat kerja.
Setelah piringnya kosong, Wandi beranjak kembali menuju tempat tinggalnya bersiap memakai seragam kerja. Jarak antara tempat tinggalnya dengan PT IMIP hanya sekitar 10 menit.
Sesekali biasanya ia duduk terdiam di depan kos-kosannya sembari menghisap sebatang rokok dengan mengingat kembali perjuangannya mencari kerja.
Wandi bukanlah warga Kabupaten Morowali. Ia adalah warga Desa Bolano, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).
Jauh sebelum masuk ke gerbang perusahaan, Wandi tumbuh di keluarga sederhana dari seorang anak petani kelapa dan pala.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu orang tuanya di kebun. Hasil itulah yang dipakai untuk membiayai pendidikannya hingga meraih gelar Sarjana Strata 1 (S1) di Universitas Tadulako (Untad).
Sebagai anak bungsu dari 9 bersaudara, Wandi belajar dari orang tuanya bahwa memenuhi kebutuhan sehari-hari bukanlah hal yang mudah.
“Yang namanya perkebunan pasti tiga bulan, kadang empat bulan, jadi selama belum panen, saya tidak tahu apakah orang tua saya sudah meminjam atau tidak. Apalagi orang tua saya umurnya sudah 70-an tahun,” kata dia, Jumat, 11 September 2026.
Keadaan itu menumbuhkan keinginannya untuk membantu perekonomian keluarga agar lebih teratur. Dengan ucapan Basmalah dan doa dari orang tuanya, ia perlahan menuju Morowali. Pilihan utama yang ada dalam pikirannya saat itu adalah PT IMIP.
Perjalanan Wandi mencari pekerjaan di PT IMIP terbilang mulus. Ia diminta untuk melakukan sesi interview pasca dua hari ia mengantarkan surat lamaran, hingga akhirnya diterima di salah satu tenant IMIP, PT Tsingjian Technology Research Indonesia (TTRI).
Saat ini, Wandi menduduki jabatan sebagai Analis Continuous Casting dengan gaji Rp8 juta per bulan, termasuk gaji lemburnya. Dengan gaji yang cukup tinggi itu, perlahan perannya dalam keluarga berubah.
Dia bukan lagi anak yang hanya menerima hasil kerja dari orang tua. Kini ia ikut menjadi orang yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah setiap bulan gajian saya tetap mengirimkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rumah maupun kebutuhan lainnya,” ujar Wandi.
IMIP bagi Wandi tidak sekadar sebuah kawasan industri tempatnya bekerja, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang membawanya mengubah pola perekonomian keluarga.
Kisah Wandi hanya satu di antaranya puluhan ribu pekerja yang menggantungkan harapan pada pekerjaan di kawasan IMIP.
Data HR Departemen PT IMIP akhir Agustus 2026, jumlah tenaga kerja mencapai 98.266 orang. 92 persen atau 90.405 pekerja berasal dari Sulawesi, 31.445 atau 32 persen merupakan penduduk Provinsi Sulteng serta 17.688 atau 18 persen dari Kabupaten Morowali.
Menurut Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, tenaga kerja lokal lingkar tambang Bahodopi, terdapat 11 persen atau 10.809 orang dan 8 persen atau 7.861 orang dari luar Sulawesi.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik ketenagakerjaan. Di baliknya ada keluarga, kebutuhan pendidikan, biaya hidup dan harapan yang turut bergerak bersama setiap orang yang bekerja di kawasan industri.
Seperti Wandi, sebagian pekerja datang dari jauh dengan alasan yang sederhana, mencari pekerjaan, meningkatkan penghasilan serta membantu kebutuhan keluarga. Di balik pertumbuhan kawasan industri, ada kehidupan-kehidupan lain yang ikut tumbuh bersama.












