GLOBALSULTENG.COM – Sejak beberapa tahun terakhir, alat berat terus merobek hamparan tanah pegunungan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Berton-ton lapisan tanah paling atas dibongkar untuk mengangkat mineral nikel di bawahnya.
Perusahaan mencatat, hingga pertengahan tahun 2026 sudah jutaan ore diangkat dan dijual oleh PT Vale Indonesia dari Bumi Tepe Asa Moroso. Lantas bagaimana PT Vale Indonesia yakin dapat mewujudkan model terbaik pertambangan berbasis keberlanjutan alias sustainable mining di tanah Morowali ?
Laporan : Syahril, Morowali
Sejatinya, untuk melihat penerapan sustainable mining oleh sebuah perusahaan tambang, terdapat tiga pilar utama yang dapat digunakan sebagai kacamata. Pertama dampak ekonomi, kedua pengelolaan limbah dan lahan pasca tambang serta ketiga proyek pemberdayaan masyarakat.
Tiga pilar ini merupakan amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas UU Nomor 40 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).
Pilar-pilar ini menjadi rel yang harus dilalui perusahaan menuju sustainable mining. Namun untuk mewujudkan hal itu, perusahaan harus merogoh kocek dalam. Sebab nilai rupiah yang digelontorkan untuk mencapainya tak bisa lagi dibilang sedikit.
Teknologi yang digunakan pun harus memperhitungkan dampak lingkungan, salah-salah, justru hanya akan ikut menyumbang masalah.
Menjawab hal ini PT Vale IGP Morowali mengembangkan fasilitas pengolahan nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang akan menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) salah satu bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Proyek ini mengintegrasikan konsep industri rendah karbon melalui pemanfaatan Waste Heat Recovery Power generation (WHRPG) dan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung kebutuhan energi operasional.
Jika dibandingkan dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang banyak digunakan perusahaan nikel di Morowali, HPAL dinilai memiliki intensitas energi lebih rendah dan menghasilkan emisi karbon lebih kecil. Teknologi ini juga memungkinkan optimalisasi konsumsi energi melalui integrasi sistem pemanfaatan panas limbah dan digitalisasi proses produksi. Langkah ini memperkuat efisiensi dalam rantai pasok industri nikel dan mendukung penurunan emisi.
Hingga Juni 2026, pembangunan fasilitas HPAL di Morowali sudah mencapai 33,3 persen. Pekerjaan yang tengah berlangsung mencakup pembangunan fasilitas utama, utilitas, infrastruktur pendukung serta instalasi berbagai peralatan utama proyek.
“PT Vale bersama mitra terus berfokus pada pelaksanaan proyek yang mengutamakan keselamatan kerja, kualitas konstruksi, dan prinsip berkelanjutan guna mendukung agenda hilirisasi mineral Nasional dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik Indonesia,” ujar Head of Mine Operation IGP Morowali, Wafir.
Hanya saja, proses pemurnian nikel dengan teknologi HPAL menggunakan asam sulfat suhu tinggi dan tekanan tinggi ini akan menyisakan limbah tailing yang beracun, sehingga membutuhkan fasilitas pembuangan dan pemantauan yang sangat ketat untuk mencegah pencemaran lingkungan.
Tidak hanya menghadirkan teknologi yang diklaim menghasilkan emisi karbon yang rendah, PT Vale IGP Morowali juga membangun fasilitas pembibitan (nursery) di atas lahan seluas 2 hektar dengan target produksi sebanyak 700.000 bibit per tahun guna mendukung reklamasi pascatambang. Bibit yang akan ditanam berasal dari area sekitar tambang.
Sebelum melakukan penambangan perusahaan terlebih dahulu mempelajari kondisi lahan, jenis tanaman yang tumbuh, bibit, serta unsur hara di dalam tanah. Tujuannya untuk memastikan reklamasi lahan pascatambang dapat mendekati kondisi alaminya.
Selain fokus pada pembangunan fasilitas HPAL, proses penambangan juga terus dilakukan. Tercatat sejak Juli 2025 hingga kuarter pertama 2026 perusahaan telah menjual tidak kurang 2,9 juta ton bijih nikel. Penjualan tersebut merupakan upaya perusahaan mendukung kebutuhan bahan baku industri pengolahan nikel Nasional sekaligus mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi bersih di Indonesia.
Pemerintah daerah juga ikut kecipratan keuntungan dari dana bagi hasil penjualan ore nikel PT Vale. Tercatat sejak 2023 hingga September 2025, perusahaan berkontribusi sebesar Rp43 miliar terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Morowali.
Warga lokal turut merasakan manfaat langsung dari hadirnya PT Vale IGP Morowali. Hingga Juni 2026, perusahaan telah menyerap total 3.600 tenaga kerja terdiri dari karyawan PT Vale serta kontraktor atau mitra kerja. Sedangkan untuk pengembangan fasilitas pengolahan perusahaan mempekerjakan hingga 2.223 orang tenaga kerja.
“Perusahaan meyakini keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari capaian operasional, tetapi juga dari nilai tambah yang dihasilkan bagi negara dan daerah,” sebut Wafir.
PT Vale serius dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat (PPM). Sejak 2015 hingga kuarter pertama 2026 perusahaan telah menggelontorkan hingga Rp80 miliar dana segar ke wilayah sekitar operasi dan pengembangan proyek Morowali.
Rupiah dengan nilai jumbo itu disalurkan ke berbagai bidang antara lain pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat, lingkungan, infrastruktur, penguatan kapasitas masyarakat, serta dukungan terhadap kegiatan sosial dan budaya.
Salah satu diantaranya ialah mengimplementasikan Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) melalui System of Rice Intensification (SRI) Organik atau padi organik.
“Melalui pemenuhan kewajiban kepada negara, penciptaan lapangan kerja, pelibatan pelaku usaha, serta pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, perusahaan berkomitmen untuk terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan,” pungkas Wafir.












