GLOBALSULTENG.COM – Matahari belum sepenuhnya meninggi, kapal cepat berkapasitas 50 orang itu sudah menjemput kami di Marina Cottage menuju Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una.
Tujuan kami adalah mengunjungi Pulau Papan, sebuah pulau kecil yang terletak di Desa Kadoda, Kecamatan Talatako.
Untuk menjangkau pulau ini, diperlukan waktu sekitar dua jam menggunakan kapal cepat. Sebelum memasuki Pulau Papan, kami disuguhkan dengan keindahan gugusan pulau-pulau yang tersebar di Kepulauan Togean ini.
Kami melihat banyak cottage yang dibangun untuk menampung pengunjung yang datang untuk berlibur di pulau-pulau ini. Setelah dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan, Pulau Papan.
Ini kali pertama saya mengunjungi Pulau Papan. Sebelum kapal benar-benar merapat, perhatian langsung tertuju pada jembatan kayu yang panjangnya sekitar satu kilometer, menghubungkan Pulau Papan dengan Pulau Malenge.
Begitu kaki menginjak papan kayunya, hamparan laut sebening kristal langsung menyambut di bawah pijakan. Kami berswafoto mengabadikan destinasi wisata yang sangat indah itu. Air yang begitu jernih hingga terumbu karang dapat terlihat jelas dari atas.

Ikan-ikan kecil berenang di sela karang, sementara cahaya matahari menembus permukaan laut, menciptakan bayangan yang bergerak mengikuti riak ombak.
Beberapa saat setelah berswafoto, kami berjalan menuju salah satu homestay. Sepanjang perjalanan, kami melihat kayu-kayu jembatan mulai mengalami kerusakan, sehingga menuntut pengunjung lebih berhati-hati.
Sesampainya di homestay, secara kebetulan Kepala Desa Kadoda bernama Dirwan Karaba sedang duduk di tempat itu. Kami pun berbincang-bincang dengannya, membahas berbagai macam masalah, salah satunya cara mereka menjaga pulau ini.
Ternyata, dibalik keindahan, ada ancaman kerusakan terumbu karang yang menghantui Kepulauan Togean yaitu illegal fishing, pemboman ikan dan penggunaan bius oleh oknum nelayan demi mendapatkan hasil tangkapan secara instan.
“Saya selalu edukasi masyarakat, jangan ikut model seperti itu, karena itu hanya menghancurkan pulau,” kata Dirwan Karaba, Selasa, 4 Agustus 2026.
Kesadaran mereka yang menjadi benteng utama. Masyarakat Desa Kadoda memilih menjaga laut yang memberi mereka kehidupan sembari bekerja sama dengan Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) untuk mengawasi perairan sekitar pulau.
Akhirnya, praktik penangkapan ikan secara destruktif itu kini semakin berkurang dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Selain ancaman kerusakan, kami juga berbincang-bincang dengan pengunjung tempat ini. Wisatawan asing yang mengunjungi Pulau Papan ini biasanya lebih sering dari Benua Eropa.
Mereka berlibur ke Pulau Papan biasanya mulai dari Bulan Juni sampai September atau pada musim panas. Di Desa Kadoda, terdapat 100 Kepala Keluarga (KK) atau 600 jiwa. Sebagian rumah-rumah mereka dijadikan sebagai homestay untuk menampung para wisatawan asing maupun lokal yang datang.

Warga Desa Kadoda tidak semua nelayan, mereka sebagian beralih profesi menjadi petani, menanam kelapa, pala, cengkeh hingga kakao di Pulau itu, Hasil panen kemudian dijual kepada pengepul yang datang ke desa.
Setelah berbincang sejam lebih sembari menikmati keindahan bersama Kades Kadoda, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu pulau lagi meninggalkan Pulau Papan.
Dari atas kapal cepat, jembatan kayu sepanjang satu kilometer itu perlahan mengecil hingga akhirnya hanya tampak sebagai garis tipis di tengah laut.
Pulau kedua yang kami kunjungi ini untuk melihat salah satu usaha yang dibangun dengan fokus memberdayakan perempuan. Terus pantau GlobalSulteng.com untuk cerita selanjutnya.












