Nasional

AMSI Bekali 18 Jurnalis Lewat Pelatihan Cek Fakta untuk Hadapi Hoaks di Ruang Digital

Global Sulteng
×

AMSI Bekali 18 Jurnalis Lewat Pelatihan Cek Fakta untuk Hadapi Hoaks di Ruang Digital

Sebarkan artikel ini
AMSI Bekali 18 Jurnalis Lewat Pelatihan Cek Fakta untuk Hadapi Hoaks di Ruang Digital
Perubahan pola konsumsi informasi publik yang kini lebih banyak mengandalkan video dibandingkan teks mendorong media beradaptasi cepat. Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM – Perubahan pola konsumsi informasi publik yang kini lebih banyak mengandalkan video dibandingkan teks mendorong media beradaptasi cepat.

Di tengah derasnya arus misinformasi dan disinformasi di ruang digital, penguatan kapasitas jurnalis pun menjadi kebutuhan mendesak.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Menjawab tantangan itu, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan Internews dan didukung European Union menggelar pelatihan bertajuk “Media Sosial untuk Cek Fakta” pada 13–14 Februari 2026 di Hotel Crystal Nusa Dua.

Kegiatan ini diikuti 18 jurnalis dari wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Tengah.

Pelatihan dibuka oleh Ni Made Ras Amanda G dari Majelis Etik AMSI Bali. Ia mengatakan, media tidak cukup hanya beradaptasi secara teknis, tetapi juga harus tetap berpegang pada prinsip dasar jurnalisme.

“Di tengah arus disinformasi yang menyebar begitu cepat dan perubahan perilaku publik yang kini lebih banyak menonton daripada membaca,” ucapnya.

“Pelatihan ini menjadi jawaban konkret untuk memperkuat kapasitas produksi konten video sekaligus meneguhkan komitmen kita pada jurnalisme yang akurat, terverifikasi, independen, dan bertanggung jawab,” tambahnya.

Selama dua hari, peserta mendapat pembekalan untuk merespons masifnya misinformasi, disinformasi, dan malinformasi di media sosial.

Baca juga: Irwan Lapatta Bakal Boyong Ribuan Partisipan Golkar ke Sayap Partai Gerindra

Hari pertama menghadirkan Nurika Manan dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia serta Eviera Paramita Sandi, Koordinator Suara.com Bali.

Materi yang diberikan meliputi evolusi disinformasi, teknik open-source intelligence (OSINT), verifikasi fakta berbasis digital, analisis narasi, hingga strategi storytelling agar konten cek fakta lebih relevan dan efektif menjangkau audiens.

Peserta juga mempraktikkan penggunaan berbagai perangkat pemeriksaan fakta, mulai dari verifikasi foto dan video, forensik situs web dan domain, hingga deteksi hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam format teks, gambar, audio, dan video.

Memasuki hari kedua, pelatihan berfokus pada peran pemeriksa fakta dalam perlindungan hak asasi manusia, pentingnya etika dan sensitivitas konteks, serta produksi konten cek fakta dalam format multiformat yang adaptif di berbagai platform.

Eviera Paramita Sandi menekankan bahwa konten video kini menjadi arus utama di media sosial. Sehingga, media harus mampu menarik perhatian audiens sejak detik pertama melalui teknik “hook” yang kuat, pemilihan sudut cerita yang tepat, hingga strategi distribusi di platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.

Pelatihan ditutup dengan praktik produksi video cek fakta yang kemudian dibedah bersama para pelatih untuk mendapatkan umpan balik konstruktif.

Ke depan, AMSI akan melanjutkan program ini melalui skema fellowship yang dijadwalkan berlangsung pada Maret–April 2026.

Program berkelanjutan ini diharapkan semakin memperkuat ekosistem informasi yang akurat, bertanggung jawab, dan berpihak pada kepentingan publik, khususnya di kawasan Indonesia Timur dan Tengah yang kerap menjadi sasaran peredaran hoaks digital.