Seputar Sulteng

HPAL Sambalagi, Mengolah Nikel Morowali untuk Industri Nasional

Global Sulteng
×

HPAL Sambalagi, Mengolah Nikel Morowali untuk Industri Nasional

Sebarkan artikel ini
HPAL Sambalagi, Mengolah Nikel Morowali untuk Industri Nasional
Pembangunan fasilitas pengolahan nikel melalui High Pressure Acid Leach (HPAL) terus berjalan untuk mendukung rantai pasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik. Foto: PT Vale.

RIAN AFDHAL / GLOBAL SULTENG

Pembangunan fasilitas pengolahan nikel melalui High Pressure Acid Leach (HPAL) terus berjalan untuk mendukung rantai pasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Fasilitas ini dikembangkan PT Vale Indonesia Tbk bersama GEM Co. Ltd dan EcoPro melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) di Desa Sambalagi, Kabupaten Morowali.

Autoclave, peralatan utama dalam proses pengolahan bijih nikel limonit telah tiba di Desa Sambalagi pada 22 Juli 2026. Kedatangan Autoclave menandai kemajuan yang signifikan dalam pembangunan fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah itu.

Proyek HPAL Sambalagi merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale, anggota MIND ID yang memiliki saham sebesar 34 persen dan terintegrasi dengan tambang nikel Blok Bahodopi.

Chairman GEM Co., Ltd. Prof. Xu Kaihua mengatakan proyek ini diproyeksikan menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja dan menghasilkan nilai ekspor sekitar US$1,5 miliar per tahun.

Tak hanya itu, proyek ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3 juta kendaraan listrik setiap tahun. Di Sambalagi ditargetkan mampu mengolah bijih dengan kadar sekitar 0,6 sampai 0,4 dari yang sebelumnya 1,0 sampai 1,1 persen.

Kata Prof. Xu Kaihua, gabungan sumber daya Indonesia, keunggulan industri baterai EcoPro dan teknologi GEM, mendukung percepatan transisi energi global.

“Ini merupakan wujud kolaborasi antara Indonesia, Tiongkok dan Korea Selatan untuk membangun industri nikel nol karbon pertama di dunia,” kata dia.

Proyek ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mendorong pengembangan industri pengolahan nikel serta ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Adapun pengembangan industri hilir nikel ini berlangsung saat struktur ekonomi Sulteng semakin ditopang dari sektor industri pengolahan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Sulteng tumbuh 8,47 persen pada 2025. Industri pengolahan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 14,12 persen.

Perubahan paling terlihat terjadi di Morowali. BPS Sulteng mencatat kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi Morowali turun dari sekitar 25 persen pada 2010 menjadi 1,6 persen pada 2024. Pada periode yang sama, industri pengolahan berkembang menjadi penyumbang utama ekonomi daerah.

Pemerintah menempatkan pengolahan mineral di dalam negeri sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat industri nasional.

Kementerian ESDM menyebut terdapat 79 smelter nikel yang telah beroperasi di Indonesia pada Desember 2025. Sementara, 74 lainnya masih dalam tahap konstruksi.

Meski begitu, pembangunan HPAL Sambalagi perlu memastikan pertumbuhan kawasan industri harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan serta kehidupan masyarakat sekitar.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan manfaat pembangunan harus menjangkau masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Pengembangan kawasan juga diarahkan pada konsep yang lebih rendah emisi dengan memanfaatkan panel surya dan panas untuk menuju net zero emission 2060.

“Kita ingin masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat. Fasilitas sosial kita bangun dari awal, seperti lapangan olahraga, masjid, pasar, dan lapangan sepak bola,” jelas Rosan.