GLOBALSULTENG.COM – Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) mempertemukan sekitar 200 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan di Palu, Sulawesi Tengah, dengan calon pembeli untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat legalitas dan kesehatan finansial usaha.
Program bertajuk Tumbuhkan Peluang ini melibatkan Amartha Financial, Women’s World Banking, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Peserta juga mendapat pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta pembukaan rekening bank.
Head of Secretariat ICFH sekaligus Chairman Amartha.org, Aria Widyanto, mengatakan pengembangan UMKM perempuan membutuhkan dukungan yang terintegrasi, mulai dari legalitas hingga akses pasar dan pengelolaan keuangan.
“Penguatan UMKM perempuan tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan. Mereka membutuhkan ekosistem yang membantu usaha menjadi lebih formal, mampu mengakses pasar lebih luas, sekaligus memiliki ketahanan dan kesehatan finansial,” kata Aria, Jumat (16/10/2026).
Dalam lokakarya tersebut, peserta bertemu dengan sejumlah calon mitra pasar lokal, yakni Toko Oleh-Oleh Sri Rejeki, Toko Oleh-Oleh Sal-Han, Gampiri Interaksi Lestari, dan Nina Agro Jaya. Pertemuan ini membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memahami standar produk, memperoleh masukan, dan menjajaki peluang kerja sama.
Baca juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.235 Triliun
ICFH juga memfasilitasi pengurusan NIB bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Legalitas usaha menjadi salah satu aspek penting untuk memenuhi persyaratan kemitraan, mengakses layanan keuangan formal, dan mengembangkan bisnis.
Asisten Deputi PUG Bidang Perekonomian, Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan Pemerintah Daerah Wilayah KemenPPPA, Eni Widiyanti, mengatakan perempuan pelaku UMKM masih menghadapi kendala berupa keterbatasan akses informasi, jaringan pemasaran, serta beban pekerjaan domestik dan pengasuhan.
“Melalui kegiatan Tumbuhkan Peluang, kami ingin mendorong agar perempuan pelaku UMKM tidak hanya mampu mempertahankan usahanya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk naik kelas, memperluas pasar, dan meningkatkan kemandirian ekonominya,” ujar Eni.
Selain akses pasar, program ini menekankan kesehatan finansial atau financial health, yang mencakup kemampuan mengelola arus kas, memenuhi kebutuhan bisnis, menghadapi risiko keuangan, dan merencanakan pertumbuhan usaha.
Sementara, Senior Policy Strategist Southeast Asia Women’s World Banking, Desi Vicianna, mengatakan peserta akan melanjutkan kegiatan dengan pendampingan intensif dari fasilitator lokal untuk memperkuat pengelolaan keuangan dan pengembangan bisnis.
“Pendampingan intensif oleh fasilitator lokal” tersebut diharapkan membantu pengusaha mikro perempuan membangun praktik keuangan yang lebih baik agar pertumbuhan usaha berjalan beriringan dengan ketahanan finansial.
Potensi pengembangan UMKM di Sulteng turut ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencatat nilai tambah Rp 67,96 triliun pada 2025. Sementara itu, industri makanan dan minuman mencapai Rp 7,24 triliun.













