GLOBALSULTENG.COM, MORUT – Cara unik dilakukan warga Desa Wawopada, Morowali Utara (Morut) dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mereka memilih Gua Tamanoa untuk menjadi saksi khidmatnya upacara bendera yang dilaksanakan di dalam perut bumi, Senin, 17 Agustus 2026.
Dari permukiman warga, perjalanan menuju gua berjarak sekitar 1,5 kilometer. Jalan kaki menjadi pilihan karena akses menuju lokasi belum sepenuhnya memadai untuk kendaraan.
Setelah berjalan menyusuri jalan menuju kawasan gua, perjalanan berakhir di sebuah pintu masuk yang relatif kecil. Namun, ukuran pintu itu seolah tak menggambarkan ruang di baliknya.
Saat masuk, Gua Tamanoa langsung menyajikan pemandangan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk secara alami dari ribuan tahun lalu.
Cahaya lampu yang temaram menerangi sebagian ruang gua. Di antara bebatuan dan dinding yang lembap, pengibaran Merah Putih berlangsung khidmat.
Nuansa alam gua membuat peringatan kemerdekaan tahun ini terasa berbeda. Tidak ada lapangan luas dengan terik matahari. Warga justru berada di dalam perut bumi, dikelilingi bebatuan yang menjadi bagian dari bentang alam Desa Wawopada.
Bagi Kepala Desa Wawopada, Ishak Patasik, pemilihan Gua Tamanoa bukan sekadar mencari lokasi berbeda untuk upacara.
Ada semangat gotong royong sekaligus upaya memperkenalkan potensi wisata yang selama ini belum banyak dikenal.
Warga Wawopada, kata Ishak, secara perlahan membuka akses menuju Gua Tamanoa. Mereka berharap pemerintah turut membantu meningkatkan kualitas jalan sehingga nantinya dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Dengan semangat masyarakat, kami bergotong royong. Ini juga misi kami agar Gua Tamanoa diresmikan sebagai destinasi wisata,” kata dia.

Potensi Gua Tamanoa bukan hanya pada ruang utama yang menjadi lokasi upacara. Gua tersebut pernah didatangi wisatawan mancanegara, di antaranya dari Kanada dan Belanda untuk melakukan penelitian.
Dia menyebut pernah ada wisatawan dari Belanda yang masuk hingga sekitar sembilan kilometer ke dalam gua. Namun, perjalanan tersebut belum mencapai ujung.
Sehingga, panjang keseluruhan Gua Tamanoa hingga kini masih menjadi misteri. Cerita tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Namun, potensi itu juga membutuhkan pengelolaan yang lebih serius.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali Utara (Morut) sebelumnya pernah membangun gazebo di kawasan tersebut. Tetapi pengembangan itu tidak berlanjut.
Menurut Ishak, fasilitas di dalam gua sebenarnya tidak membutuhkan banyak pembangunan. Salah satu kebutuhan utama adalah penerangan agar pengunjung dapat menikmati ruang gua dengan lebih aman.
Di tengah aktivitas industri dan mobilitas masyarakat, keberadaan ruang wisata berbasis alam dapat menjadi alternatif untuk beristirahat dan menikmati lingkungan.
“Kita menyadari bahwa kita berada di tengah-tengah daerah industri yang membutuhkan hiburan, salah satunya wisata ini,” ujar Ishak.
Gua bukan sekadar ruang kosong di bawah tanah. Stalaktit dan stalagmit yang telah terbentuk dalam waktu sangat panjang merupakan bagian dari ekosistem dan bentang alam yang perlu dijaga.
Ishak mengaku masih mencari informasi mengenai sejarah penamaan tersebut. Ia bahkan terus berupaya menemui orang-orang tertua di desa untuk menggali cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Saya masih berusaha mencari informasi terkait sejarah Gua Tamanoa. Sampai sekarang belum mendapatkan informasi dari orang-orang tertua yang bisa menjelaskan itu,” jelasnya.
Pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Gua Tamanoa bukan sekadar menjadi tempat berkibarnya Sang Merah Putih.
Di tengah geliat pembangunan dan industri, Gua Tamanoa hadir menawarkan sisi lain yaitu keindahan alami, ruang yang menyimpan cerita, serta potensi wisata yang layak untuk dikenal lebih luas.












