Seputar Sulteng

Poltekkes Kemenkes Palu Gabungkan Tiga Program Percepat Pencegahan Stunting di Donggala

Global Sulteng
×

Poltekkes Kemenkes Palu Gabungkan Tiga Program Percepat Pencegahan Stunting di Donggala

Sebarkan artikel ini
Poltekkes Kemenkes Palu Gabungkan Tiga Program Percepat Pencegahan Stunting di Donggala
Poltekkes Kemenkes Palu mengintegrasikan tiga program sekaligus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Ganti, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM, DONGGALA – Poltekkes Kemenkes Palu mengintegrasikan tiga program sekaligus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Ganti, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

Melalui edukasi makanan pendamping air susu ibu (MPASI), Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan pelatihan pengukuran antropometri, kampus kesehatan itu mendorong penguatan upaya pencegahan stunting di tingkat desa.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Kegiatan itu diikuti 20 peserta yang terdiri atas 10 kader kesehatan dan 10 ibu balita selama dua hari atau pada 13–14 Juli 2026.

Program dipimpin Ketua Tim Pengabdian, Ns. Taqwin, dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Palu serta didukung Pemerintah Kelurahan Ganti, Puskesmas Gonenggati, bidan dan kader kesehatan setempat.

Selain memberikan penyuluhan, peserta juga mengikuti praktik langsung. Materi yang diberikan mencakup waktu pemberian MPASI, keberagaman pangan, pemanfaatan bahan pangan lokal, pentingnya protein hewani, tekstur makanan sesuai usia anak, keamanan pangan, hingga teknik pemberian makan responsif.

Pada sesi STBM, peserta diajak memahami keterkaitan antara sanitasi lingkungan, penyakit infeksi, dan gangguan pertumbuhan balita.

Sementara itu, kader kesehatan memperoleh pelatihan teknis mengenai penimbangan berat badan serta pengukuran panjang atau tinggi badan balita sesuai standar antropometri.

Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Palu turut terlibat aktif mendampingi peserta selama kegiatan. Mereka membantu pelaksanaan tes awal dan tes akhir, demonstrasi pembuatan MPASI, praktik pengukuran antropometri, hingga dokumentasi kegiatan.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran lapangan dalam menerapkan ilmu kesehatan sekaligus membangun kemampuan komunikasi dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: Jasa Raharja Dinobatkan sebagai Asuransi Tepercaya Pelindung Masyarakat di Sektor Transportasi

Lurah Ganti, Isbat Halaco, mengatakan materi yang diberikan menjawab kebutuhan masyarakat karena peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kader dan ibu balita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung. Kami berharap materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam keluarga dan disampaikan kembali kepada masyarakat melalui kegiatan Posyandu,” kata Isbat.

Disisi lain, Kepala Puskesmas Gonenggati, Ahmad, menekankan bahwa upaya mencegah stunting tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan gizi.

Menurutnya, sanitasi, pencegahan penyakit infeksi, serta ketepatan pengukuran pertumbuhan anak menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan deteksi dini masalah gizi.

“Pencegahan stunting tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi. Sanitasi, pencegahan penyakit infeksi, dan ketepatan pengukuran pertumbuhan juga harus diperhatikan. Data antropometri yang akurat membantu tenaga kesehatan mendeteksi masalah pertumbuhan dan menentukan tindak lanjut,” ujarnya.

Evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pada seluruh indikator.

Nilai pengetahuan MPASI kader meningkat dari 62,5 menjadi 92,0, sedangkan pengetahuan ibu balita naik dari 45,0menjadi 85,5.

Pada aspek STBM, pengetahuan kader meningkat dari 70,0 menjadi 95,0, sementara pengetahuan ibu balita bertambah dari 52,5 menjadi 87,5.

Adapun keterampilan kader dalam melakukan pengukuran antropometri meningkat dari 65,0 menjadi 96,5.

Poltekkes Kemenkes Palu berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga upaya pencegahan stunting di Kelurahan Ganti berjalan secara berkesinambungan.