GLOBALSULTENG.COM, PALU – Universitas Tadulako (Untad) mencatat transformasi signifikan dalam tiga tahun terakhir di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng.
Sejak dilantik pada Maret 2023, kampus terbesar di Sulawesi Tengah itu berhasil meningkatkan kualitas akademik, tata kelola, riset, hingga kerja sama internasional di tengah proses pemulihan pascabencana dan pandemi Covid-19.
Capaian paling menonjol diraih pada Februari 2024 ketika Untad untuk pertama kalinya memperoleh Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Predikat tersebut mengakhiri penantian selama 42 tahun sejak kampus berdiri.
“Kebanggaan tersendiri bagi saya. Selama 42 tahun Untad belum pernah meraih Akreditasi Unggul, dan belum genap satu tahun kepemimpinan kami sudah berhasil mencapainya,” kata Prof Amar, dikutip dari kanal YouTube Saraba Channel, Rabu, 19 Juni 2026.
Menurut Prof Amar, capaian itu merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika. Ia menjelaskan, proses akreditasi dilakukan secara ketat dengan melibatkan tujuh asesor yang menilai sembilan aspek utama, mulai dari pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, hingga sarana dan prasarana.
Keberhasilan tersebut berdampak pada meningkatnya posisi Untad di tingkat nasional. Saat ini, Untad masuk dalam jajaran 35 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di bidang kemahasiswaan, kampus ini juga menembus 25 besar perguruan tinggi paling berprestasi versi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) 2026.
Dari 717 perguruan tinggi yang dinilai, Untad menempati peringkat ke-24 nasional dengan total 179 prestasi mahasiswa. Capaian itu menjadikan Untad sebagai satu-satunya perguruan tinggi asal Sulawesi Tengah yang berhasil masuk dalam daftar tersebut.
Baca juga: Rektor Untad Imbau Civitas Akademika Tetap Waspada dan Bijak Terima Informasi Pascagempa M 6,7
Transformasi tidak hanya terjadi di bidang akademik. Pada 2025, Untad memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas pengelolaan keuangan dan administrasi akademik serta meraih penghargaan keterbukaan informasi dari pemerintah pusat.
Kampus juga mempercepat digitalisasi layanan administrasi, keuangan, perencanaan, hingga sistem pendukung tridarma untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi tata kelola.
Penguatan sumber daya manusia turut menjadi perhatian. Dalam dua tahun terakhir, Untad menambah 76 guru besar atau profesor, yang dinilai memperkuat kapasitas riset dan kualitas pembelajaran.
Di saat yang sama, kampus menerapkan sistem remunerasi guna meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.
Di tingkat internasional, Untad memperluas kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Jepang, China, Jerman, Australia, Serbia, serta sejumlah negara Eropa melalui penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta pengembangan akademik.
Salah satu hasil kerja sama tersebut ialah bantuan 3.000 buku dari Pemerintah China yang memperkaya koleksi perpustakaan Untad.
Pengembangan infrastruktur juga terus dilakukan. Untad membangun fasilitas olahraga, memperkuat jaringan internet, meningkatkan sistem kelistrikan dan air bersih, serta menyiapkan berbagai sarana menuju status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Pada 2026, Untad merencanakan pembangunan asrama mahasiswa berkapasitas 8.000 orang yang terintegrasi dengan penggunaan kendaraan listrik hasil kerja sama dengan China.
Kampus juga membangun Nalodo Research Center yang diproyeksikan menjadi pusat penelitian likuefaksi pertama di Indonesia, disertai pembangunan Rumah Sakit Untad dan embung pembelajaran bidang keairan serta perikanan.
Perbaikan tata kelola turut berdampak pada peningkatan pendapatan institusi. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Untad meningkat hampir tiga kali lipat, dari sekitar Rp76 miliar pada 2022menjadi sekitar Rp228 miliar pada akhir 2025, meski jumlah mahasiswa relatif tidak berubah.
Prof Amar menegaskan, seluruh capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh civitas akademika. Keberhasilan sebuah institusi tidak ditentukan oleh kemampuan seorang pemimpin bekerja sendiri, melainkan oleh kemampuannya membangun sinergi dan menggerakkan seluruh elemen organisasi.
“Semua capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika yang terus bersinergi membangun Untad. Tidak mungkin semua itu bisa dicapai jika hanya dikerjakan sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi dan manajemen yang baik,” ujarnya.
Berbagai capaian dalam tiga tahun terakhir itu menjadi fondasi bagi Untad untuk memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan tinggi, riset, inovasi dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan timur Indonesia.













