GLOBALSULTENG.COM – Aksara Lontara yang mulai asing bagi sebagian anak muda di Makassar dibawa kembali ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian mereka. As’ad Fadli mengemas aksara khas Sulawesi Selatan itu menjadi motif tas dan topi melalui usaha fesyen Ripuji Lontaratta.
Usaha yang berdiri sejak 2019 tersebut memproduksi berbagai produk fesyen dan craft, di antaranya Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat. Desainnya dibuat kekinian dengan tetap mempertahankan motif aksara Lontara.
As’ad mengatakan ide tersebut muncul dari kegelisahannya melihat semakin banyak anak muda yang tidak lagi mengenal aksara Lontara. Ia kemudian mencari cara agar warisan budaya tersebut dapat diperkenalkan melalui produk yang sesuai dengan minat generasi muda.
“Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen,” ujar As’ad, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ripuji Lontaratta kini memiliki lima tenaga kerja. Produk dipasarkan melalui gerai offline, media sosial, kanal business to business (B2B), pameran, hingga berbagai event.
Pasarnya pun berkembang dari Makassar ke sejumlah daerah lain, termasuk konsumen antarkota dan antarpulau.
Dalam mengembangkan bisnis, As’ad tidak hanya menghadapi persoalan pemasaran dan produksi. Ia juga menyadari pentingnya kemampuan mengelola legalitas, sumber daya manusia, dan manajemen usaha.
Ia kemudian bergabung dengan linkumkm by BRI setelah mengenal platform tersebut melalui Rumah BUMN Makassar. Berbagai pelatihan yang tersedia dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha.
“Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia,” kata As’ad.
Baca juga: Jasa Raharja Dorong Kolaborasi Keselamatan Transportasi
Hingga September 2026, linkumkm by BRI telah dimanfaatkan 17,6 juta pelaku UMKM. Platform tersebut menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM BRI yang menyediakan akses pengembangan kapasitas usaha.
Bagi As’ad, aksara Lontara tetap menjadi bagian penting dari identitas produknya. Ia ingin setiap produk tidak hanya berfungsi sebagai barang fesyen, tetapi juga membawa cerita tentang budaya Sulawesi Selatan.
“Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda,” ujarnya.
Ripuji Lontaratta juga menggunakan QRIS BRI untuk transaksi dengan pelanggan. Menurut As’ad, pembayaran digital memudahkan konsumen saat membeli produk.
Perjalanan usaha tersebut tidak selalu mulus. As’ad pernah menghadapi pesanan custom yang dibatalkan secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang kurang sehat. Namun, pengalaman itu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses bisnis.
Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI M. Candra Utama mengatakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui dukungan permodalan. Pelaku usaha juga membutuhkan penguatan manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, dan kemampuan membaca peluang pasar.
“UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya,” kata Candra.













