GLOBALSULTENG.COM – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Sulawesi Tengah (Sulteng) di sektor hilirisasi mencapai Rp110 triliun pada tahun 2025.
Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani dikutip dari kanal youtube Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Minggu (18/1/2026).
Realisasi investasi dari sektor hilirisasi tersebut menempatkan Sulawesi Tengah pada peringkat pertama, diikuti oleh Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun dan Jawa Timur Rp36,7 triliun.
Adapun dari sisi sumber investasi, kata Rosan Roeslani, porsi Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi, dengan total Rp429,6 triliun atau 73,5% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp154,5 triliun atau 26,5%.
Menurut Rosan Roeslani, investasi paling besar berada di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara (Morut) yang didominasi oleh komoditas nikel. Sehingga, hilirisasi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mendongkrak perekonomian lokal.
“Ini faktor hilirisasi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, saat ini pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 5 persen, sulawesi tengah mampu mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen,” ucapnya.
Rosan Roeslani menjelaskan, realisasi investasi secara keseluruhan pada sektor hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau meningkat 43,3% year on year (yoy).
Rinciannya, jika dilihat dari sektor mineral dan batu bara, nikel masih mendominasi dengan jumlah Rp185,2 triliun, disusul tembaga Rp65,8 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 trilun, lainnya (pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara dan aspal buton) Rp18,5 triliun.
Kemudian, pada sektor perkebunan dan kehutanan, didominasi oleh kelapa sawit Rp62,8 triliun, kayu log Rp62,2 triliun, karet Rp12,9 triliun dan lainnya (pala, pinus, kelapa, kakao dan biofuel) Rp6,6 triliun.
Sementara, sektor minyak bumi Rp41,7 triliun, gas bumi Rp18,3 triliun. Terakhir, sektor perikanan dan kelautan termasuk garam, ikan, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rujungan dan tilapia mencapai Rp6,4 triliun.
Rosan Roeslani menambahkan, total realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7% yoy, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp1.905,6 triliun.
Investasi juga turut menyerap tenaga kerja sebanyak 2.710.532 orang atau meningkat 10,4% yoy.
“Tantangan di 2026 ini tidak mudah, tapi kami optimis, investasi akan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujarnya.












