Seputar Sulteng

Arboretum Himalaya Cermin Keberlanjutan Morowali

Global Sulteng
×

Arboretum Himalaya Cermin Keberlanjutan Morowali

Sebarkan artikel ini
Arboretum Himalaya Cermin Keberlanjutan Morowali
Arboretum Himalaya, area pascatambang PT Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan. Foto: Humas PT Vale.

GLOBALSULTENG.COM – Suara mesin alat berat mungkin tak asing lagi di telinga jika berada di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Suara itu mengalun dari balik perbukitan, berkelindan dengan raungan kendaraan yang melintas di jalan kawasan industri.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Siang dan malam, suara-suara itu datang silih berganti, membentuk irama yang perlahan mengubah wajah Morowali. Nikel adalah salah satu kata yang menjelaskan perubahan itu.

Dari perut bumi, Morowali mulai bergerak. Investasi datang, lapangan kerja terbuka, dan kawasan yang dahulu berada jauh dari pusat perhatian ekonomi nasional akhirnya masuk ke dalam percakapan tentang masa depan industri Indonesia.

Lantas, bagaimana Morowali ketika roda tambang perlahan-lahan berhenti?. Dari pertanyaan itu, penulis menyematkan cerita tentang bagaimana PT Vale Indonesia Tbk menyiapkan fondasi kehidupan Morowali.

RIAN AFDHAL HIDAYAT / GLOBAL SULTENG

Jauh sebelum suara mesin alat berat itu berhenti, PT Vale mulai membicarakan penyusunan rencana pascatambang Bahodopi Blok 2 dan 3 yang diproyeksikan memasuki periode 2036–2040.

Konsultasinya melibatkan pemerintah daerah, instansi teknis, inspektur tambang, pemerintah desa, camat, hingga tokoh masyarakat setempat.

Morowali yang dianugerahi kekayaan sumber daya alam dan dalam beberapa tahun terakhir tumbuh sangat cepat menjadi pengingat bahwa industri ekstraktif pada akhirnya memiliki siklus.

“Kami menyadari kegiatan pertambangan memiliki siklus. Sehingga, sejak dini kami mulai menyusun rencana pascatambang di Bahodopi Blok 2 dan 3 pada tahun 2036–2040 mendatang,” kata Head of Permit PT Vale, Muharam Zamzam.

Menutup tambang bukan sekadar mengakhiri kegiatan produksi, tetapi juga proses mempersiapkan kehidupan setelah produksi. Ada bukit yang harus ditata, ada tanah yang harus dipulihkan, ada air yang harus dijaga, ada vegetasi yang harus kembali tumbuh, dan ada masyarakat yang tetap harus memiliki sumber penghidupan.

Untuk melihat bagaimana gagasan itu dapat diwujudkan, kita bisa menoleh ke tempat lain yang masih berada dalam jejak panjang operasi PT Vale: Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Di sana ada Arboretum Himalaya.

Perjalanan Panjang Mengembalikan Hutan

Arboretum Himalaya menjadi salah satu gambaran perjalanan pemulihan lahan yang pernah bersentuhan dengan aktivitas pertambangan PT Vale.

Sejak 2006, sekitar 31,04 hektare lahan mulai direklamasi dengan penanaman sekitar 22.130 pohon serta pola penanamannya 3,5 x 4 meter. Kini, setidaknya 40 jenis pohon lokal dan endemik tumbuh di kawasan itu.

Dari tanah merah yang kala itu gersang dan tandus hingga kini menjadi warisan hijau bukanlah hasil yang hadir dalam semalam. Itu merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran serta kolaborasi untuk mengembalikan hutan ke rona awalnya.

Seiring vegetasi yang perlahan pulih, kehidupan lain pun mulai menunjukkan jejaknya. Di antara pepohonan, dapat ditemukan ular hitam, rangkong Sulawesi, monyet moor, serta beragam jenis kupu-kupu.

Perusahaan bagian dari MIND ID ini memiliki komitmen terhadap keberlanjutan untuk mengubah lahan bekas tambang menjadi kawasan hijau. Febriany Eddy kala masih menjabat sebagai CEO PT Vale pernah berkata, setiap pihak bisa melihat, keberlanjutan PT Vale bukan hanya cita-cita, tapi realita.

Pernyataan yang cukup menggambarkan komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip keberlanjutan di tengah aktivitas operasionalnya.

Dalam laporan keberlanjutan PT Vale di Morowali pada Agustus 2026, sekitar 30 hektare lahan telah direklamasi, disertai penanaman ratusan bibit pohon dan rehabilitasi aliran sungai dengan melibatkan masyarakat di sekitarnya.

Di tengah laju hilirisasi nikel, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, berkunjung ke Indonesia Growth Project (IGP) Morowali saat kedatangan autoclave, peralatan utama dalam proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di pabrik Sambalagi.

Namun, perhatiannya tidak berhenti di situ. Rosan melihat sisi lain saat mengunjungi fasilitas nursery, tempat berbagai jenis tanaman dipersiapkan untuk mendukung proses rehabilitasi dan reklamasi lahan pascatambang.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani mengunjungi fasilitas nursery PT Vale di Morowali. Foto: Humas PT Vale.

Fasilitas itu bukan semata ruang untuk menyemai dan merawat tanaman, tetapi menjadi bagian dari rangkaian pengelolaan lingkungan yang berjalan beriringan dengan aktivitas pertambangan.

Keberadaan fasilitas pembibitan dan penerapan Good Mining Practice (GMP) dengan standar internasional turut mendapat perhatian Rosan. Baginya, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana sebuah industri tumbuh di tengah lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitarnya.

“Hal yang paling saya perhatikan adalah bagaimana aspek sustainability yang menjaga keseimbangan antara lingkungan dan sosial sangat diperhatikan di sini,” kata Rosan.

Fasilitas nursery itu mulai beroperasi pada 2025. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 400.000 bibit per tahun, dengan rancangan pengembangan yang memungkinkan kapasitas maksimal hingga satu juta bibit per tahun.

Pengembangan proyek HPAL di Sambalagi ini juga pernah disinggung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, dalam kegiatan Jambore Pertambangan dan Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Sulawesi Tengah di Palu.

Reny bilang, pengembangan proyek HPAL PT Vale bersama mitranya layak menjadi contoh bagi perusahaan lain karena mengacu pada standar internasional yang menjadi bagian penting dari prinsip keberlanjutan.

“Salah satu contoh penerapan industri yang bagus ada di Sambalagi, Morowali, melalui pengembangan pabrik HPAL. Itu sudah bagus sekali karena dirancang sesuai dengan standar yang ada,” tutur Reny.

Tambang yang Tumbuh Bersama Warga

Di kegiatan yang sama, Senior Manager Mine Production Bahodopi PT Vale Indonesia Tbk, Sarjan Soleman, juga memaparkan kinerja perusahaan.

Saat itu, Sarjan menceritakan kolaborasi PT Vale dan masyarakat Desa Niupit Jaya dalam mengelola sampah demi menjaga lingkungan di wilayah operasional.

Pengelolaan sampah dibangun melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS 3R. Fasilitas tersebut telah mengelola sekitar 218 ton sampah sepanjang 2025.

Rinciannya, 55,8 ton merupakan sampah organik, 6 ton lainnya berupa material yang masih dapat dimanfaatkan, dan 156 ton merupakan residu.

Program Pertanian, Perkebunan, Peternakan Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (P3SRLB) di area pemberdayaan PT Vale. Foto: Humas PT Vale.

Selain pengelolaan sampah, PT Vale mendampingi masyarakat melalui program Pertanian, Perkebunan, Peternakan Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (P3SRLB).

Program ini menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI), pendekatan budidaya yang menekankan pengelolaan tanaman, air, tanah, serta penggunaan sumber daya secara lebih efisien.

Pendampingan PT Vale di Morowali telah mencakup sekitar 18 hektare lahan padi organik milik masyarakat hingga 2026. Hasil panennya turut digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan internal perusahaan.

Pertambangan akhirnya bukan hanya tentang apa yang diambil dari perut bumi, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat. Arboretum Himalaya tentu merupakan sebuah cermin keberlanjutan yang mungkin akan terjadi hari esok di Morowali.