Seputar Sulteng

Rektor Prof Amar Paparkan Peran Untad Dukung Swasembada Pangan di Hadapan Mentan Amran

Global Sulteng
×

Rektor Prof Amar Paparkan Peran Untad Dukung Swasembada Pangan di Hadapan Mentan Amran

Sebarkan artikel ini
Rektor Prof Amar Paparkan Peran Untad Dukung Swasembada Pangan di Hadapan Mentan Amran
Rektor Prof Amar memaparkan sejumlah langkah Universitas Tadulako (Untad) dalam mendukung swasembada pangan di Sulawesi Tengah (Sulteng). Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM, PALU – Rektor Prof Amar memaparkan sejumlah langkah Universitas Tadulako (Untad) dalam mendukung swasembada pangan di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Prof Amar menjelaskan, Untad mulai mengambil bagian dalam penguatan ketahanan pangan melalui penanaman jagung serentak dan pemanfaatan lahan perhutanan sosial di Kabupaten Sigi pada 2025.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

“Ketahanan pangan bukan hanya sebuah wacana, Untad sudah bergerak,” ucapnya di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Gedung Auditorium Untad, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, komitmen tersebut dilanjutkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi Untad dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kabupaten Donggala dengan mengusung tema “Ketahanan Pangan, Ekonomi Regeneratif, Sirkular Ekonomi, Zero Waste dan Blue Economy” pada tahun 2026.

Kata Prof Amar, program tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

“Mahasiswa kita bukan hanya belajar di ruang kelas. Mahasiswa kita belajar menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Fakultas Pertanian (Faperta) Untad mengembangkan sejumlah inovasi pertanian berbasis teknologi. Salah satunya smart farming hidroponik untuk menghasilkan melon premium dengan penggunaan nutrisi air yang lebih efisien.

Adapun pengembangan melon tersebut menggunakan green house, hidroponik, dan teknologi smart farming. Hasilnya dapat mencapai tingkat kemanisan 18 derajat Brix dengan potensi keuntungan sekitar Rp25 juta per tiga bulan hanya dengan green house seluas 300 meter persegi.

“Pertanian masa depan yang ingin kita bangun adalah pertanian berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, data dan memberikan nilai tambah kepada petani,” tuturnya.

Selain melon, Untad mengembangkan semangka berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan kelembapan tanah, suhu dan kondisi lingkungan dipantau melalui sensor.

Baca juga: Mentan Amran Dorong Lulusan Untad Jadi Pencipta Lapangan Kerja

Selain itu, Untad juga mengembangkan ketimun untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Pengembangan komoditas itu menjadi bentuk kolaborasi kampus, masyarakat, dan industri dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus ekonomi daerah.

Prof Amar mengatakan, berbagai riset Faperta Untad juga mencakup budidaya anggur, pupuk, perbanyakan stek berkelanjutan, agrowisata, hingga pengembangan Kebun Anggur Duyu.

Penelitian lainnya meliputi perbanyakan stek nilam, penggunaan zat pengatur tumbuh, hidroponik, pupuk organik, sensor kelembapan, serta pengembangan berbagai komoditas pertanian.

Untuk tanaman pangan, Untad mengembangkan riset padi gogo lokal, karakter agronomi ratun, toleransi kekeringan, dan peningkatan produktivitas.

Sementara, pada komoditas kopi, Faperta Untad melakukan kajian kesesuaian lahan, produksi kopi robusta, serta strategi pengembangan kopi arabika Sulteng.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di laboratorium. Ilmu dan teknologi harus sampai ke desa dan langsung kepada petani,” jelasnya.

Kemudian, Untad juga memiliki rekam jejak pengabdian kepada masyarakat melalui optimalisasi lahan, peningkatan produktivitas padi, pendampingan kelompok tani, pengembangan sayuran organik, kakao, hingga berbagai komoditas unggulan lokal.

Prof Amar menilai swasembada pangan tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan dan teknologi. Indonesia juga membutuhkan generasi muda yang mau masuk ke sektor pertanian dengan perspektif baru.

Pertanian masa depan, kata Prof Amar tidak lagi identik dengan aktivitas mencangkul secara konvensional. Teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), IoT, drone, sensor, big data, smart farming, pasar digital, hingga precision agriculture akan semakin menentukan sektor pertanian.

Prof Amar menambahkan, Untad akan terus mendorong kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, petani, mahasiswa, dan dunia usaha agar inovasi pertanian tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi menghasilkan manfaat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pertanian masa depan bukan hanya tentang mencangkul. Pertanian masa depan berbicara tentang AI, Internet of Things, drone, sensor, big data, smart farming, digital marketplace dan precision agriculture,” jelasnya.