GLOBALSULTENG.COM – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) ke-62 bakal dilaksanakan pada 13 April 2026.
Pemprov Sulteng telah meluncurkan logo yang akan digunakan dalam seluruh rangkaian kegiatan HUT Sulteng ke-62.
Ketua Panitia Arfan mengatakan rangkaian kegiatan mulai dilaksanakan dengan pembukaan Sulteng Expo, pertandingan olahraga dan paralayang pada 13 April 2026.
Nantinya, pelaksanaan kegiatan akan berlangsung selama enam hari dengan puncak acara pada 18 April 2026.
Panitia juga mengundang enam Menteri dalam perayaan HUT Sulteng ke-62, termasuk Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Adapun progres persiapan sarana dan prasarana sudah mencapai 70 persen serta ditargetkan rampung pada 11 April mendatang.
Dia menambahkan, panitia menyiapkan agenda menarik, yaitu makan gratis seribu durian bagi masyarakat, sekaligus dirangkaikan dengan pelepasan ekspor durian.
Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan salah satu potensi unggulan Sulteng ke tingkat nasional maupun internasional.
Sementara, filosofi logo HUT Sulteng ke-62 dirancang sebagai cara membaca perjalanan daerah. Identitasnya berangkat dari dua kata kunci yakni bersatu dan berani.
Baca juga: BNN Usulkan Larangan Vape di Indonesia, Disalahgunakan Jadi Alat Konsumsi Narkoba
Keduanya dipahami sebagai cara bekerja dan cara melangkah. Tiga elemen utama dalam logo itu juga merangkum perjalanan yakni keterhubungan, arah bersama dan kesejahteraan yang terus diwariskan.
Tema HUT Sulteng ke-62 yakni Bersatu Dalam Nawa Cita Berani, Menuju Sulteng Nambaso. Tema ini memotret dua gerak yang berlangsung bersamaan.
Bersatu Dalam Nawa Cita Berani menggambarkan arah pembangunan yang tumbuh dari kerja kolektif.
Beragam lapisan masyarakat, prioritas, sektor dan kebersamaan bertemu dalam satu kerangka yang memberi makna, memberi jiwa, memberi suka bagi perjalanan daerah.
Sementara, Menuju Sulteng Nambaso menandai dorongan untuk melangkah lebih terbuka dan lebih dekat dengan kebutuhan warga.
Identitas visual peringatan ini berangkat dari arsip. Ribuan pola, bentuk, dan objek budaya Sulawesi Tengah yang tersimpan jauh dari tanah asalnya menjadi titik awal pencarian.
Dari sana, ragam hias dibaca kembali, dipahami ulang, lalu diterjemahkan menjadi bahasa visual yang berbicara pada hari ini.
Bentuk belah ketupat, kepala kerbau, dan bintang delapan jari merupakan ragam hias yang cukup sering muncul ketika menelusuri arsip visual Sulawesi Tengah.
Bentuk-bentuk ini hadir berulang dalam berbagai pola, foto, dan artefak yang menjadi titik awal eksplorasi identitas visual peringatan 62 tahun.
Pembacaan yang digunakan dalam logo ini dipahami sebagai representasi visual, cara tim menerjemahkan bentuk-bentuk yang ditemukan agar dapat berbicara dalam konteks hari ini.
Ketika ketiga ragam hias ini dipertemukan, muncul bayangan tentang keterhubungan, arah, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Belah ketupat dibaca sebagai jalinan yang terus berulang dan saling terhubung.
Bintang delapan jari dibayangkan sebagai penunjuk arah yang mengikat kita semua. Kepala kerbau dihadirkan sebagai ingatan tentang kehidupan yang bertumpu pada kerja dan kesejahteraan yang diwariskan dari generasi dulu, sampai hari ini.
Garis-garis yang terus terhubung menggambarkan kebersamaan yang tidak terputus. Lekuk yang bergerak bebas menghadirkan keberanian untuk melangkah.
Dari satu arah, garis menyebar, menemukan ragamnya, lalu kembali bertemu pada arah yang sama. Gerak ini menjadi metafora perjalanan daerah: banyak ragam, satu tujuan.
Ketika ragam hias tersebut ditarik ke dalam satu komposisi, angka 62 muncul sebagai bentuk yang paling terlihat. Dari kejauhan ia tampak tegas dan sederhana.
Saat didekati, detail-detailnya perlahan terbuka. Bentuk ini menggambarkan persatuan sebagai sesuatu yang tampak utuh, namun tersusun dari banyak unsur yang bekerja bersamaan. Ia menjadi pengingat bahwa perjalanan Sulawesi Tengah dibangun dari keberagaman yang perlu terus dirawat.












