Ekonomi

Laba Vale Indonesia Melonjak 32 Persen di Tengah Tekanan Harga Nikel

Global Sulteng
×

Laba Vale Indonesia Melonjak 32 Persen di Tengah Tekanan Harga Nikel

Sebarkan artikel ini
Laba Vale Indonesia Melonjak 32 Persen di Tengah Tekanan Harga Nikel
PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang tetap tangguh sepanjang 2025, meski harga nikel global mengalami tekanan. Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM – PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang tetap tangguh sepanjang 2025, meski harga nikel global mengalami tekanan.

Emiten berkode saham INCO itu membukukan laba bersih sebesar US$76,1 juta, naik 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$57,8 juta.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang mencapai US$990,2 juta, atau meningkat 4 persen dari US$950,4 juta pada 2024.

Lonjakan ini terjadi di tengah penurunan harga realisasi rata-rata nikel matte sebesar 7 persen menjadi US$12.157 per ton.

Dari sisi operasional, produksi nikel matte Vale naik tipis menjadi 72.027 metrik ton, dari 71.311 metrik ton pada tahun sebelumnya.

Perseroan juga mencatatkan EBITDA sebesar US$228,2 juta, relatif stabil dibandingkan US$225,9 juta pada 2024.

Sumber pertumbuhan baru mulai terlihat sejak pertengahan tahun. Untuk pertama kalinya, Vale menjual bijih nikel saprolit sejak Juli 2025 dengan total penjualan mencapai 2,31 juta wet metric tons (wmt).

Blok Bahodopi menjadi penyumbang terbesar dengan volume lebih dari 2 juta wmt.

Baca juga: Perkuat Transparansi, PT Vale Paparkan Progres IGP Morowali kepada Jurnalis

Manajemen Vale memanfaatkan strategi peningkatan payability nikel matte yang berlaku sejak Juli 2025 serta mendorong volume pengiriman lebih tinggi guna menjaga kinerja pendapatan di tengah pelemahan harga.

Efisiensi juga menjadi penopang utama. Unit biaya kas penjualan berhasil ditekan menjadi US$9.339 per ton, lebih rendah dibandingkan US$9.374 per ton pada tahun sebelumnya-sekaligus menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.

Disisi investasi, Vale meningkatkan belanja modal secara signifikan menjadi US$485,9 juta sepanjang 2025, naik 46 persen dari tahun sebelumnya.

Dana ini difokuskan pada pengembangan proyek strategis. Hingga akhir Desember 2025, posisi kas perseroan tercatat sebesar US$376,3 juta.

Untuk ekspansi, proyek tambang di Pomalaa telah mencapai sekitar 60 persen progres.

Sementara itu, proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) mencatatkan kemajuan konstruksi sekitar 50 persen dan ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada kuartal III 2026.

Selain itu, perseroan juga tengah menyelesaikan pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada Mei 2026.

Di tengah dinamika harga komoditas, langkah ekspansi dan diversifikasi produk menjadi sinyal bahwa Vale Indonesia tengah menyiapkan fondasi pertumbuhan jangka panjang.