Nasional

PT Vale Pastikan Standar Lingkungan Jadi Prioritas Utama Proyek Pomalaa

Global Sulteng
×

PT Vale Pastikan Standar Lingkungan Jadi Prioritas Utama Proyek Pomalaa

Sebarkan artikel ini
PT Vale Pastikan Standar Lingkungan Jadi Prioritas Utama Proyek Pomalaa
PT Vale Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan praktik pertambangan yang baik dan berkelanjutan melalui pengembangan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM – PT Vale Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menjalankan praktik pertambangan yang baik dan berkelanjutan melalui pengembangan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Proyek strategis di Pomalaa ini mencakup pembangunan smelter pengolahan nikel sebagai bagian dari penguatan industri hilirisasi nasional.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Hingga akhir 2025, PT Vale masih memfokuskan aktivitas pada tahap konstruksi. Perusahaan menargetkan kegiatan penambangan baru akan dimulai pada 2026, seiring dengan kesiapan infrastruktur dan pemenuhan seluruh aspek perizinan serta pengelolaan lingkungan.

Direktur dan Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan bahwa pengembangan IGP Pomalaa dijalankan dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan dan perlindungan lingkungan.

“Kami berkomitmen menjalankan pengelolaan pertambangan yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan lingkungan serta kesehatan dan keselamatan masyarakat. Komitmen ini juga berjalan berkat dukungan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” ucap Budiawansyah, Senin (26/1/2026).

Penegasan tersebut disampaikan Budiawansyah saat menjadi penanggap dalam peluncuran laporan riset dan diskusi publik bertema pembangunan kawasan industri Pomalaa yang digelar Yayasan Satya Bumi di Jakarta.

Dalam forum itu, PT Vale memberikan penjelasan atas sejumlah temuan riset, termasuk aspek pengelolaan hidrologi dan lingkungan.

Ia menjelaskan, sebelum memulai penambangan, PT Vale selalu menyusun kajian hidrologi secara komprehensif untuk memastikan pengelolaan air limpasan tambang memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dialirkan ke badan air.

Baca juga: RDP bersama Komisi XII DPR RI, PT Vale Pastikan Operasional Patuh Regulasi dan Fokus Hilirisasi

Kajian tersebut mencakup pemetaan daerah tangkapan air, arah aliran limpasan, hingga analisis curah hujan, erosi dan sedimentasi.

“Pengelolaan ini dilengkapi dengan fasilitas penangkap sedimen yang dirancang sesuai rencana pembukaan lahan, serta pemantauan rutin kualitas air pada titik-titik yang telah ditentukan. Ini adalah wujud nyata tanggung jawab kami dalam mengelola lingkungan,” ujarnya.

Terkait pembukaan lahan, Budiawansyah menyebutkan total areal IUPK yang telah dibuka hingga saat ini mencapai 880,3 hektare atau sekitar 4,3 persen dari total luasan IUPK.

Dari luasan tersebut, area di hutan lindung hanya sekitar 82,4 hektare atau 0,4 persen. Ia juga meluruskan data pembukaan lahan periode 2024–2025 yang menurut catatan perusahaan seluas 487,9 hektare, bukan 854,29 hektare seperti disebutkan dalam kajian tertentu.

PT Vale, lanjutnya, menempatkan perlindungan lingkungan serta kesehatan dan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama. Perusahaan juga mencermati dengan serius kekhawatiran terkait kondisi kesehatan warga di sekitar wilayah operasional, termasuk Desa Hakatutobu.

Berdasarkan penelusuran perusahaan, Desa Hakatutobu berada pada daerah aliran sungai yang berbeda dengan keluaran air limpasan tambang PT Vale. Selain itu, wilayah tersebut juga berdekatan dengan beberapa konsesi pertambangan lain yang telah beroperasi lebih dahulu.

Sebagai pembanding, Budiawansyah menegaskan praktik pertambangan berkelanjutan telah lama diterapkan PT Vale di Blok Sorowako, Sulawesi Selatan.

Praktik tersebut mengantarkan perusahaan meraih berbagai penghargaan bergengsi, antara lain PROPER Emas 2024 dari KLHK, Gold Award Asia ESG Positive Impact Awards 2025 untuk konservasi keanekaragaman hayati, serta Lestari Awards 2025 untuk inisiatif kehati.

“Kami sangat mengapresiasi kajian yang dilakukan dan menjadikannya sebagai referensi perbaikan berkelanjutan. Transparansi adalah kunci untuk membangun kegiatan pertambangan yang lebih baik. Kami terbuka menerima masukan konstruktif dari seluruh pemangku kepentingan,” tutur Budiawansyah.