Ekonomi

UMKM Binaan BRI, Kain Indonesia by Shifara Hidupkan Nafas Wastra Nusantara Lewat Koleksi Office Wear

Global Sulteng
×

UMKM Binaan BRI, Kain Indonesia by Shifara Hidupkan Nafas Wastra Nusantara Lewat Koleksi Office Wear

Sebarkan artikel ini
UMKM Binaan BRI, Kain Indonesia by Shifara Hidupkan Nafas Wastra Nusantara Lewat Koleksi Office Wear
Batik kini tak lagi identik dengan busana formal yang kaku. Dengan sentuhan desain modern, batik justru tampil semakin relevan sebagai busana kantor yang elegan, profesional, sekaligus berkarakter. Foto: IST.

GLOBALSULTENG.COM – Batik kini tak lagi identik dengan busana formal yang kaku. Dengan sentuhan desain modern, batik justru tampil semakin relevan sebagai busana kantor yang elegan, profesional, sekaligus berkarakter.

Tren inilah yang ditangkap oleh Kain Indonesia by Shifara, UMKM binaan BRI yang konsisten menghidupkan wastra Nusantara melalui koleksi office wear yang kekinian.

Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan
Iklan - Geser ke bawah untuk melanjutkan

Mengusung konsep “from office to hangout”, Kain Indonesia by Shifara menghadirkan busana siap pakai (ready to wear) yang dirancang khusus untuk perempuan aktif.

Koleksi ini memadukan nilai tradisional batik dengan gaya modern, sehingga nyaman dikenakan di lingkungan kerja maupun aktivitas santai setelahnya.

“Caranya, kami memproduksi baju-baju jadi dengan konsep office wear. Target market utama kami adalah wanita,” ujar Sinta Paramitha, pemilik Kain Indonesia by Shifara, Jumat (16/1/2026).

Tinggal di Pekalongan, kota yang lekat dengan batik, membuat Sinta akrab dengan dunia wastra sejak kecil. Pengalaman berkeliling Indonesia bersama orang tuanya semakin membuka wawasannya tentang kekayaan kain tradisional Nusantara.

Dari sanalah tumbuh tekadnya untuk ikut menjaga dan mengembangkan wastra Indonesia. Semangat tersebut kian menguat ketika Sinta melihat penurunan ekspor batik sejak 2012 serta berkurangnya jumlah pengrajin kain Indonesia, terutama pada masa pandemi.

Ancaman klaim budaya dari negara lain turut mendorongnya untuk lebih serius mengangkat wastra Nusantara ke pasar yang lebih luas.

Sebagai merek lokal, Kain Indonesia by Shifara menonjolkan keunikan dengan mengeksplorasi wastra dari berbagai daerah, mulai dari Endek Bali, Jumputan Palembang, Jumputan Jogja, hingga Batik Pekalongan.

Pemilihan material yang nyaman dan desain yang mengikuti tren menjadi kunci agar busana tetap relevan digunakan sehari-hari.

Baca juga: RKAB PT Vale 2026 Disetujui, Kebut Pemulihan Operasional dan Investasi Berkelanjutan

“Kami merancang busana yang bisa dipakai oleh perempuan dengan berbagai ukuran, sehingga juga memudahkan untuk kebutuhan seragam. Modelnya kami sesuaikan dengan tren agar tetap modern,” ujar Sinta.

Perjalanan Kain Indonesia by Shifara semakin berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta, wadah kolaborasi dan pemberdayaan UMKM.

Melalui proses seleksi, Sinta mendapatkan pendampingan intensif berupa pelatihan digital marketing, strategi pemasaran, operasional, hingga pengelolaan keuangan.

“Kami bertemu dengan para coach yang setelah pendampingan tetap bisa diajak berdiskusi. Ini sangat membantu kami menyelesaikan banyak hal yang sebelumnya membingungkan dalam menjalankan bisnis,” tuturnya Sinta.

Tak hanya pelatihan, BRI juga membuka akses promosi melalui berbagai event, mulai dari bazaar UMKM hingga program BRI Inkubator, yang membantu meningkatkan eksposur produk dan brand awareness.

“BRI memberikan banyak fasilitas, mulai dari ilmu yang bisa langsung diaplikasikan sampai kesempatan pameran yang sangat membantu perkembangan bisnis kami,” jelasnya.

Lebih dari sekadar bisnis, kehadiran Kain Indonesia by Shifara turut menggerakkan ekonomi perempuan. Seluruh rantai produksinya, mulai dari penjahit hingga admin pengemasan, melibatkan perempuan dari berbagai usia dan latar belakang.

Sinta pun meyakini peran perempuan sangat penting dalam menjaga dan mengenalkan batik ke dunia.

Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah kolaboratif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.

“Program pembinaan UMKM ini merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihanbagi pelaku UMKM di berbagai daerah. Banyak di antaranya yang kini mampu memperluas pasar, tidak hanya secara daring, tetapi juga menembus pasar ekspor.

“Ini menunjukkan bahwa pendampingan berkelanjutan dan akses terhadap ekosistem digital mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkas Dhanny.